Roh yang tak tau kemana harus berlari sedang duduk
di tepian tangkis
Memandangi tumpukan-tumpukan batu dengan perabot di
dalamnya
Tumpukan-tumpukan batu itu setinggi mimpi anak-anak
di desa
Kata orang-orang yang tak tau tumbuhan bisa bicara
tumpukan itu nampak indah
Roh yang tak tau kemana harus berlari mulai
melintasi titik-titik waktu
Tubuhnya biasa memandangi boneka jerami dengan
seragam lusuh berwarna coklat tua
Matanya tak berkompromi dengan hal-hal yang
gemerlapan
Tangannya sibuk memilih batang mana yang harus
ditebas
Roh yang tak tau kemana harus berlari mati tercekik
oleh tebu-tebu yang hancur
Dahan yang dianggapnya rumah telah berganti bahan
Ada kumpulan orang-orang yang bertengger dengan
suara tawa yang tidak tau waktu
Pada saku mereka dipenuhi kertas dengan mantra di
dalamnya
Mantranya mampu menutup mata dari roh yang tak tau
kemana harus berlari
Pada tumpukan-tumpukan batu yang tinggi itu
Orang-orang melihat kerlip-kerlip lampu dari
kaca-kaca rumah mereka
Menikmati makan dan minum dari mesin-mesin daur
ulang
Mereka bercanda dengan robot-robot yang tak tau cara
jatuh dan berguling di pasir-pasir
Mereka lupa daun-daun yang saling bicara jauh lebih
indah
Mereka lupa dari secangkir teh yang memproduksi tawa
mereka
Ada air mata dari roh
yang tak tau kemana harus berlariMalang, 14 Maret 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar