Selasa, 24 Desember 2019

MENIKMATI PEMANDANGAN

Roh yang tak tau kemana harus berlari sedang duduk di tepian tangkis
Memandangi tumpukan-tumpukan batu dengan perabot di dalamnya
Tumpukan-tumpukan batu itu setinggi mimpi anak-anak di desa
Kata orang-orang yang tak tau tumbuhan bisa bicara tumpukan itu nampak indah

Roh yang tak tau kemana harus berlari mulai melintasi titik-titik waktu
Tubuhnya biasa memandangi boneka jerami dengan seragam lusuh berwarna coklat tua
Matanya tak berkompromi dengan hal-hal yang gemerlapan
Tangannya sibuk memilih batang mana yang harus ditebas

Roh yang tak tau kemana harus berlari mati tercekik oleh tebu-tebu yang hancur
Dahan yang dianggapnya rumah telah berganti bahan
Ada kumpulan orang-orang yang bertengger dengan suara tawa yang tidak tau waktu
Pada saku mereka dipenuhi kertas dengan mantra di dalamnya
Mantranya mampu menutup mata dari roh yang tak tau kemana harus berlari

Pada tumpukan-tumpukan batu yang tinggi itu
Orang-orang melihat kerlip-kerlip lampu dari kaca-kaca rumah mereka
Menikmati makan dan minum dari mesin-mesin daur ulang
Mereka bercanda dengan robot-robot yang tak tau cara jatuh dan berguling di pasir-pasir
Mereka lupa daun-daun yang saling bicara jauh lebih indah
Mereka lupa dari secangkir teh yang memproduksi tawa mereka
Ada air mata dari roh yang tak tau kemana harus berlari

Malang, 14 Maret 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERMISI PALING MENYAKITKAN

Dari air yang berjuang memeluk api Dari air yang langkahnya adalah kemajemukan Dari air yang berusaha membasahi kepalamu Aku tenang y...